POSMETROSUMUT.COM | SUKAMAKMUR – Gerakan Credit Union (CU) di Indonesia yang tumbuh dari akar rumput terus didorong untuk tidak hanya menjadi wadah penguatan ekonomi masyarakat, tetapi juga ruang pendidikan, solidaritas, dan pemberdayaan perempuan. Salah satu upaya tersebut dilakukan melalui penguatan kepemimpinan perempuan agar semakin banyak perempuan, khususnya dari pedesaan, berani mengambil peran strategis di ruang publik.
Perkumpulan Pemberdayaan Perempuan Pijer Podi (YAPIDI) mengangkat tema “Gerakan CU Memacu Peran Strategis Kepemimpinan Perempuan” sebagai bagian dari upaya mempercepat dan memperkuat keterlibatan perempuan dalam kepemimpinan, terutama pada jabatan publik dan posisi pengambilan keputusan.
Gerakan CU di Indonesia pada awalnya berkembang dari masyarakat pedesaan dengan filosofi ekonomi kerakyatan yang berkelanjutan sekaligus gerakan moral. Credit Union dibangun oleh masyarakat dan berorientasi pada kesejahteraan anggota dengan prinsip dari anggota, oleh anggota, dan untuk anggota.
Dalam perkembangannya, CU tidak hanya dipandang sebagai lembaga keuangan mikro. Bagi YAPIDI, CU juga merupakan gerakan kemanusiaan, solidaritas, serta pendidikan masyarakat, terutama bagi perempuan yang hidup di wilayah pedesaan.
CU Menjadi Ruang Pemberdayaan Perempuan
YAPIDI melihat gerakan CU memiliki potensi besar untuk bertransformasi dari gerakan ekonomi menjadi gerakan solidaritas yang memberikan ruang lebih luas bagi perempuan untuk berkembang dan mengambil keputusan.
Perubahan tersebut diarahkan agar perempuan tidak hanya menjadi anggota CU, tetapi juga memiliki kesempatan untuk menjadi kader, pemimpin, serta pengambil keputusan di berbagai tingkatan.
Tujuan yang ingin dibangun adalah terciptanya akses yang inklusif bagi kelompok-kelompok rentan. Konsep inklusi tersebut menjadi semakin penting karena kelompok rentan membutuhkan ruang untuk memperoleh kesempatan, berpartisipasi, dan mendapatkan manfaat pembangunan secara adil.
Melalui tema yang diusung, YAPIDI ingin mempercepat lahirnya perempuan-perempuan yang mampu mengambil peran strategis di jabatan publik, baik di tingkat desa maupun pada jenjang yang lebih tinggi.
Keterlibatan perempuan pada posisi strategis diharapkan tidak hanya memberikan dampak bagi perempuan. Lebih jauh, keberadaan pemimpin perempuan di ruang pengambilan keputusan diharapkan membawa perubahan positif bagi masyarakat secara luas, terutama kelompok yang selama ini berada dalam posisi rentan.
Kepemimpinan inklusif tersebut membutuhkan karakter pemimpin yang jujur, bertanggung jawab, berintegritas, memiliki empati, berjiwa melayani, serta responsif terhadap persoalan gender.
Karena itu, melalui gerakan CU, kader dan pemimpin perempuan didorong untuk berani maju mengambil peran strategis. Solidaritas, dukungan, penguatan kapasitas, dan konsolidasi menjadi bagian penting dalam proses tersebut.
Empat Agenda Penguatan Kepemimpinan Perempuan
Gerakan CU berkomitmen membangun ekosistem yang dapat mendukung lahirnya pemimpin perempuan yang memiliki kapasitas, inovatif, dan mampu bersaing.
Dalam agenda tersebut, terdapat sejumlah pesan penting yang ingin disampaikan melalui tema “Gerakan CU Memacu Peran Strategis Kepemimpinan Perempuan”.
Pertama, mempercepat pembangunan kapasitas kader perempuan di desa.
Kedua, memberikan pendampingan dan mentoring kepada para pemimpin perempuan melalui program Sekolah Perempuan Merdeka.
Ketiga, memperdalam empati sosial dan responsivitas gender sekaligus memperkuat konsolidasi gerakan untuk mendorong lahirnya kebijakan yang lebih inklusif.
Keempat, mendorong inovasi berbasis komunitas dan gerakan bersama yang berkeadilan gender menuju keutuhan ciptaan.
Keempat agenda tersebut menempatkan perempuan sebagai bagian penting dalam proses pembangunan, bukan sekadar sebagai penerima manfaat.
Perempuan Bukan Sekadar Anggota CU
Dalam gerakan yang dibangun YAPIDI, perempuan memiliki posisi strategis dalam kehidupan keluarga dan masyarakat. Perempuan bukan sekadar anggota CU, tetapi juga menjadi salah satu pilar utama yang menggerakkan kehidupan ekonomi keluarga.
Karena itu, perempuan perlu memiliki suara dalam proses pengambilan keputusan. Ketika perempuan mendapatkan ruang untuk menentukan kebijakan dan arah pembangunan, dampaknya diharapkan dapat meluas kepada masyarakat.
Transparansi dan keberlanjutan menjadi kata kunci dalam sistem yang dibangun YAPIDI bersama CU di setiap desa.
Pendekatan yang dikembangkan bukan menempatkan masyarakat sebagai objek. Sebaliknya, masyarakat dipandang sebagai subjek yang perlu mendapatkan penyadaran, pendidikan, dan akses terhadap pengetahuan.
YAPIDI hadir bersama para perintis CU untuk membuka dan mengembangkan CU di desa-desa yang belum memiliki lembaga tersebut.
Tujuan akhirnya bukan menciptakan ketergantungan, tetapi mencerdaskan masyarakat agar mampu mengelola kehidupan ekonomi secara lebih mandiri.
Persoalan ketergantungan terhadap rentenir menjadi salah satu perhatian. Masyarakat yang berusaha keluar dari jeratan rentenir tetapi kemudian masuk ke dalam peminjaman berganda, bahkan triple peminjaman, berpotensi menghadapi persoalan baru.
Kondisi tersebut juga dapat memperbesar beban perempuan dalam keluarga. Persoalan beban ganda atau double burden menjadi salah satu bentuk ketidakadilan gender yang selama berpuluh-puluh tahun menjadi bagian dari advokasi.
Selain beban ganda, bentuk ketidakadilan gender yang disebutkan meliputi pemiskinan atau marginalisasi, pelabelan atau stereotip, kekerasan atau violence, serta penomorduaan atau subordinasi.
Target Keterlibatan Perempuan di Jabatan Publik
Data YAPIDI per Juni 2026 mencatat terdapat 836 anggota kelompok dari 20.368 anggota yang duduk di jabatan publik, atau sebesar 24 persen.
Angka tersebut diharapkan dapat meningkat melalui akselerasi gerakan yang dilakukan. Target ke depan adalah meningkatkan keterwakilan anggota kelompok yang duduk di jabatan publik menjadi 30 persen.
Target tersebut menunjukkan adanya upaya untuk memperbesar ruang perempuan dalam kepemimpinan dan pengambilan keputusan.
Dengan demikian, wajah CU diharapkan terus bertransformasi. CU bukan hanya berfungsi sebagai lembaga keuangan mikro, tetapi juga menjadi wadah gerakan perempuan yang inklusif, responsif gender, profesional, serta memberikan dampak nyata bagi anggota dan masyarakat.
Perempuan Didorong Kritis Membaca Perubahan
Peran perempuan dalam kepemimpinan juga tidak dapat dilepaskan dari kemampuan membaca perubahan sosial.
Perempuan diharapkan semakin kritis dalam melihat situasi, merespons kabar dan informasi, serta memahami berbagai kebijakan yang berkembang.
Persoalan lingkungan juga menjadi bagian penting. Perempuan memiliki peran dalam memelihara alam dan lingkungan, termasuk dalam kaitannya dengan pertanian dan ketahanan pangan.
Keterlibatan tersebut juga berkaitan dengan upaya menekan dampak bencana ekologis yang dapat memengaruhi kehidupan masyarakat.
Di sisi lain, perkembangan teknologi informasi menghadirkan peluang sekaligus ancaman. Kemajuan teknologi yang berlangsung tanpa sekat dan batas membuat anak-anak dapat terpapar berbagai informasi setiap hari.
Kemudahan teknologi tersebut berdampingan dengan potensi ancaman kekerasan terhadap anak maupun kelompok rentan. Karena itu, perempuan sebagai ibu, anggota keluarga, sekaligus pemimpin memiliki peran penting dalam merespons perubahan tersebut.
Perempuan diharapkan hadir sebagai pribadi yang utuh: sebagai ibu, istri, saudara, sekaligus pemimpin yang cerdas, berempati, dan bijaksana.
Dari Desa Melahirkan Pemimpin Perempuan
Cita-cita mengenai keadilan dan kesetaraan tidak semata-mata diukur melalui angka keterwakilan. Yang lebih penting adalah lahirnya pemimpin inklusif yang mampu memberikan dampak positif secara luas dan berkelanjutan.
Dalam konteks tersebut, CU dipandang bukan sekadar lembaga keuangan mikro, melainkan wadah pembelajaran untuk mencetak pemimpin perempuan dari akar rumput.
YAPIDI telah hadir selama 43 tahun sejak 1983, bersama para perintis dari desa-desa untuk merintis dan mengembangkan gerakan CU sebagai kabar baik bagi masyarakat.
Perjalanan tersebut dilakukan ketika masyarakat kecil kerap menghadapi keterbatasan pilihan dan ketika gerakan rakyat belum selalu mendapatkan ruang yang memadai.
Harapan yang dibangun tidak berlebihan. Gerakan tersebut diarahkan pada perbaikan hak dasar atau hak asasi serta kehidupan masyarakat yang semakin baik dari waktu ke waktu.
Keadilan dan kesetaraan menjadi nilai universal yang diharapkan mampu mendorong masyarakat menjadi pribadi yang berdaulat, saling mendukung, dan membangun solidaritas.
Merefleksikan Sejarah Gerakan CU
Kegiatan dengan tema “Gerakan CU Memacu Peran Strategis Kepemimpinan Perempuan” juga menjadi momentum untuk mengingat kembali sejarah perjuangan CU bersama YAPIDI dan kelompok masyarakat sipil dalam pemberdayaan perempuan, membangun kesetaraan, serta meningkatkan kesejahteraan rakyat.
Gerakan-gerakan kecil yang tumbuh dari desa melalui CU diharapkan mampu melahirkan, membangkitkan, sekaligus memacu perempuan untuk mengambil peran strategis dalam kepemimpinan.
Kegiatan semacam ini biasanya diperingati setiap lima tahun sekali atau berdasarkan kesepakatan bersama kelompok dampingan YAPIDI. Pelaksanaannya melibatkan pengurus dan anggota Credit Union dari seluruh kelompok dampingan YAPIDI.
Momentum tersebut menjadi ruang untuk merayakan semangat gerakan CU sekaligus merefleksikan sejarahnya. Proses mengasah dan melahirkan kepemimpinan perempuan melalui CU menjadi salah satu bagian penting yang terus dikembangkan.
Selain itu, kegiatan tersebut menjadi sarana untuk mempromosikan capaian gerakan dengan menjunjung tinggi keadilan dan kesetaraan gender, mengakui kerja keras, serta berbagi pengalaman antaranggotanya.
Kesadaran terhadap pekerjaan luar biasa yang dilakukan perempuan pedesaan melalui gerakan CU juga terus diperkuat, termasuk di wilayah dampingan YAPIDI di Sumatera Utara dan Aceh.
Pada akhirnya, proses pemberdayaan tersebut diharapkan mampu memperbaiki empat elemen penting dalam analisis gender, yakni akses, partisipasi, kontrol, dan manfaat.
Keempat aspek tersebut diharapkan terus berkembang dari waktu ke waktu sehingga semakin banyak perempuan dari akar rumput yang mampu tampil sebagai pemimpin.
Gerakan CU dengan demikian tidak berhenti pada persoalan ekonomi. Ia berkembang menjadi ruang belajar, ruang solidaritas, dan ruang pemberdayaan yang mendorong perempuan untuk mengambil peran lebih besar dalam kehidupan masyarakat.
Dari desa, gerakan tersebut diharapkan terus melahirkan pemimpin perempuan yang mampu membawa nilai keadilan, kesetaraan, solidaritas, integritas, dan keberlanjutan di mana pun mereka berkarya.
PENULIS: (Afriyansyah)
www.posmetrosumut.com
Perkumpulan Pemberdayaan Perempuan Pijer Podi (YAPIDI) mengangkat tema “Gerakan CU Memacu Peran Strategis Kepemimpinan Perempuan” sebagai bagian dari upaya mempercepat dan memperkuat keterlibatan perempuan dalam kepemimpinan, terutama pada jabatan publik dan posisi pengambilan keputusan.
Gerakan CU di Indonesia pada awalnya berkembang dari masyarakat pedesaan dengan filosofi ekonomi kerakyatan yang berkelanjutan sekaligus gerakan moral. Credit Union dibangun oleh masyarakat dan berorientasi pada kesejahteraan anggota dengan prinsip dari anggota, oleh anggota, dan untuk anggota.
Dalam perkembangannya, CU tidak hanya dipandang sebagai lembaga keuangan mikro. Bagi YAPIDI, CU juga merupakan gerakan kemanusiaan, solidaritas, serta pendidikan masyarakat, terutama bagi perempuan yang hidup di wilayah pedesaan.
CU Menjadi Ruang Pemberdayaan Perempuan
YAPIDI melihat gerakan CU memiliki potensi besar untuk bertransformasi dari gerakan ekonomi menjadi gerakan solidaritas yang memberikan ruang lebih luas bagi perempuan untuk berkembang dan mengambil keputusan.
Perubahan tersebut diarahkan agar perempuan tidak hanya menjadi anggota CU, tetapi juga memiliki kesempatan untuk menjadi kader, pemimpin, serta pengambil keputusan di berbagai tingkatan.
Tujuan yang ingin dibangun adalah terciptanya akses yang inklusif bagi kelompok-kelompok rentan. Konsep inklusi tersebut menjadi semakin penting karena kelompok rentan membutuhkan ruang untuk memperoleh kesempatan, berpartisipasi, dan mendapatkan manfaat pembangunan secara adil.
Melalui tema yang diusung, YAPIDI ingin mempercepat lahirnya perempuan-perempuan yang mampu mengambil peran strategis di jabatan publik, baik di tingkat desa maupun pada jenjang yang lebih tinggi.
Keterlibatan perempuan pada posisi strategis diharapkan tidak hanya memberikan dampak bagi perempuan. Lebih jauh, keberadaan pemimpin perempuan di ruang pengambilan keputusan diharapkan membawa perubahan positif bagi masyarakat secara luas, terutama kelompok yang selama ini berada dalam posisi rentan.
Kepemimpinan inklusif tersebut membutuhkan karakter pemimpin yang jujur, bertanggung jawab, berintegritas, memiliki empati, berjiwa melayani, serta responsif terhadap persoalan gender.
Karena itu, melalui gerakan CU, kader dan pemimpin perempuan didorong untuk berani maju mengambil peran strategis. Solidaritas, dukungan, penguatan kapasitas, dan konsolidasi menjadi bagian penting dalam proses tersebut.
Empat Agenda Penguatan Kepemimpinan Perempuan
Gerakan CU berkomitmen membangun ekosistem yang dapat mendukung lahirnya pemimpin perempuan yang memiliki kapasitas, inovatif, dan mampu bersaing.
Dalam agenda tersebut, terdapat sejumlah pesan penting yang ingin disampaikan melalui tema “Gerakan CU Memacu Peran Strategis Kepemimpinan Perempuan”.
Pertama, mempercepat pembangunan kapasitas kader perempuan di desa.
Kedua, memberikan pendampingan dan mentoring kepada para pemimpin perempuan melalui program Sekolah Perempuan Merdeka.
Ketiga, memperdalam empati sosial dan responsivitas gender sekaligus memperkuat konsolidasi gerakan untuk mendorong lahirnya kebijakan yang lebih inklusif.
Keempat, mendorong inovasi berbasis komunitas dan gerakan bersama yang berkeadilan gender menuju keutuhan ciptaan.
Keempat agenda tersebut menempatkan perempuan sebagai bagian penting dalam proses pembangunan, bukan sekadar sebagai penerima manfaat.
Perempuan Bukan Sekadar Anggota CU
Dalam gerakan yang dibangun YAPIDI, perempuan memiliki posisi strategis dalam kehidupan keluarga dan masyarakat. Perempuan bukan sekadar anggota CU, tetapi juga menjadi salah satu pilar utama yang menggerakkan kehidupan ekonomi keluarga.
Karena itu, perempuan perlu memiliki suara dalam proses pengambilan keputusan. Ketika perempuan mendapatkan ruang untuk menentukan kebijakan dan arah pembangunan, dampaknya diharapkan dapat meluas kepada masyarakat.
Transparansi dan keberlanjutan menjadi kata kunci dalam sistem yang dibangun YAPIDI bersama CU di setiap desa.
Pendekatan yang dikembangkan bukan menempatkan masyarakat sebagai objek. Sebaliknya, masyarakat dipandang sebagai subjek yang perlu mendapatkan penyadaran, pendidikan, dan akses terhadap pengetahuan.
YAPIDI hadir bersama para perintis CU untuk membuka dan mengembangkan CU di desa-desa yang belum memiliki lembaga tersebut.
Tujuan akhirnya bukan menciptakan ketergantungan, tetapi mencerdaskan masyarakat agar mampu mengelola kehidupan ekonomi secara lebih mandiri.
Persoalan ketergantungan terhadap rentenir menjadi salah satu perhatian. Masyarakat yang berusaha keluar dari jeratan rentenir tetapi kemudian masuk ke dalam peminjaman berganda, bahkan triple peminjaman, berpotensi menghadapi persoalan baru.
Kondisi tersebut juga dapat memperbesar beban perempuan dalam keluarga. Persoalan beban ganda atau double burden menjadi salah satu bentuk ketidakadilan gender yang selama berpuluh-puluh tahun menjadi bagian dari advokasi.
Selain beban ganda, bentuk ketidakadilan gender yang disebutkan meliputi pemiskinan atau marginalisasi, pelabelan atau stereotip, kekerasan atau violence, serta penomorduaan atau subordinasi.
Target Keterlibatan Perempuan di Jabatan Publik
Data YAPIDI per Juni 2026 mencatat terdapat 836 anggota kelompok dari 20.368 anggota yang duduk di jabatan publik, atau sebesar 24 persen.
Angka tersebut diharapkan dapat meningkat melalui akselerasi gerakan yang dilakukan. Target ke depan adalah meningkatkan keterwakilan anggota kelompok yang duduk di jabatan publik menjadi 30 persen.
Target tersebut menunjukkan adanya upaya untuk memperbesar ruang perempuan dalam kepemimpinan dan pengambilan keputusan.
Dengan demikian, wajah CU diharapkan terus bertransformasi. CU bukan hanya berfungsi sebagai lembaga keuangan mikro, tetapi juga menjadi wadah gerakan perempuan yang inklusif, responsif gender, profesional, serta memberikan dampak nyata bagi anggota dan masyarakat.
Perempuan Didorong Kritis Membaca Perubahan
Peran perempuan dalam kepemimpinan juga tidak dapat dilepaskan dari kemampuan membaca perubahan sosial.
Perempuan diharapkan semakin kritis dalam melihat situasi, merespons kabar dan informasi, serta memahami berbagai kebijakan yang berkembang.
Persoalan lingkungan juga menjadi bagian penting. Perempuan memiliki peran dalam memelihara alam dan lingkungan, termasuk dalam kaitannya dengan pertanian dan ketahanan pangan.
Keterlibatan tersebut juga berkaitan dengan upaya menekan dampak bencana ekologis yang dapat memengaruhi kehidupan masyarakat.
Di sisi lain, perkembangan teknologi informasi menghadirkan peluang sekaligus ancaman. Kemajuan teknologi yang berlangsung tanpa sekat dan batas membuat anak-anak dapat terpapar berbagai informasi setiap hari.
Kemudahan teknologi tersebut berdampingan dengan potensi ancaman kekerasan terhadap anak maupun kelompok rentan. Karena itu, perempuan sebagai ibu, anggota keluarga, sekaligus pemimpin memiliki peran penting dalam merespons perubahan tersebut.
Perempuan diharapkan hadir sebagai pribadi yang utuh: sebagai ibu, istri, saudara, sekaligus pemimpin yang cerdas, berempati, dan bijaksana.
Dari Desa Melahirkan Pemimpin Perempuan
Cita-cita mengenai keadilan dan kesetaraan tidak semata-mata diukur melalui angka keterwakilan. Yang lebih penting adalah lahirnya pemimpin inklusif yang mampu memberikan dampak positif secara luas dan berkelanjutan.
Dalam konteks tersebut, CU dipandang bukan sekadar lembaga keuangan mikro, melainkan wadah pembelajaran untuk mencetak pemimpin perempuan dari akar rumput.
YAPIDI telah hadir selama 43 tahun sejak 1983, bersama para perintis dari desa-desa untuk merintis dan mengembangkan gerakan CU sebagai kabar baik bagi masyarakat.
Perjalanan tersebut dilakukan ketika masyarakat kecil kerap menghadapi keterbatasan pilihan dan ketika gerakan rakyat belum selalu mendapatkan ruang yang memadai.
Harapan yang dibangun tidak berlebihan. Gerakan tersebut diarahkan pada perbaikan hak dasar atau hak asasi serta kehidupan masyarakat yang semakin baik dari waktu ke waktu.
Keadilan dan kesetaraan menjadi nilai universal yang diharapkan mampu mendorong masyarakat menjadi pribadi yang berdaulat, saling mendukung, dan membangun solidaritas.
Merefleksikan Sejarah Gerakan CU
Kegiatan dengan tema “Gerakan CU Memacu Peran Strategis Kepemimpinan Perempuan” juga menjadi momentum untuk mengingat kembali sejarah perjuangan CU bersama YAPIDI dan kelompok masyarakat sipil dalam pemberdayaan perempuan, membangun kesetaraan, serta meningkatkan kesejahteraan rakyat.
Gerakan-gerakan kecil yang tumbuh dari desa melalui CU diharapkan mampu melahirkan, membangkitkan, sekaligus memacu perempuan untuk mengambil peran strategis dalam kepemimpinan.
Kegiatan semacam ini biasanya diperingati setiap lima tahun sekali atau berdasarkan kesepakatan bersama kelompok dampingan YAPIDI. Pelaksanaannya melibatkan pengurus dan anggota Credit Union dari seluruh kelompok dampingan YAPIDI.
Momentum tersebut menjadi ruang untuk merayakan semangat gerakan CU sekaligus merefleksikan sejarahnya. Proses mengasah dan melahirkan kepemimpinan perempuan melalui CU menjadi salah satu bagian penting yang terus dikembangkan.
Selain itu, kegiatan tersebut menjadi sarana untuk mempromosikan capaian gerakan dengan menjunjung tinggi keadilan dan kesetaraan gender, mengakui kerja keras, serta berbagi pengalaman antaranggotanya.
Kesadaran terhadap pekerjaan luar biasa yang dilakukan perempuan pedesaan melalui gerakan CU juga terus diperkuat, termasuk di wilayah dampingan YAPIDI di Sumatera Utara dan Aceh.
Pada akhirnya, proses pemberdayaan tersebut diharapkan mampu memperbaiki empat elemen penting dalam analisis gender, yakni akses, partisipasi, kontrol, dan manfaat.
Keempat aspek tersebut diharapkan terus berkembang dari waktu ke waktu sehingga semakin banyak perempuan dari akar rumput yang mampu tampil sebagai pemimpin.
Gerakan CU dengan demikian tidak berhenti pada persoalan ekonomi. Ia berkembang menjadi ruang belajar, ruang solidaritas, dan ruang pemberdayaan yang mendorong perempuan untuk mengambil peran lebih besar dalam kehidupan masyarakat.
Dari desa, gerakan tersebut diharapkan terus melahirkan pemimpin perempuan yang mampu membawa nilai keadilan, kesetaraan, solidaritas, integritas, dan keberlanjutan di mana pun mereka berkarya.
PENULIS: (Afriyansyah)
www.posmetrosumut.com




This post have 0 comments