POSMETROSUMUT.COM | SURABAYA – Pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Tahun Ajaran 2026/2027 menjadi momentum penting dalam perjalanan pendidikan jutaan siswa baru di Indonesia. Tidak hanya sebagai kegiatan pengenalan lingkungan sekolah, MPLS juga dinilai sebagai pintu awal pembentukan karakter, adaptasi sosial, serta kesiapan mental peserta didik memasuki jenjang pendidikan yang baru.
Perhatian terhadap pelaksanaan MPLS tahun ini datang dari Anggota Komisi X DPR RI, Reni Astuti. Legislator dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tersebut menilai bahwa awal tahun ajaran baru harus dimanfaatkan sebagai momentum memperkuat komitmen seluruh pemangku kepentingan pendidikan untuk memastikan setiap anak Indonesia mendapatkan hak belajar yang layak.
Menurut Reni, pendidikan merupakan fondasi utama pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas. Karena itu, seluruh pihak harus memastikan tidak ada anak usia sekolah yang tertinggal atau gagal mengakses pendidikan hanya karena kendala administratif, ekonomi, maupun keterbatasan daya tampung sekolah.
Memasuki tahun ajaran 2026/2027, berbagai persoalan pendidikan masih menjadi perhatian di sejumlah daerah. Mulai dari ketimpangan akses pendidikan, keterbatasan kuota sekolah negeri, hingga tantangan dalam proses penerimaan peserta didik baru masih menjadi persoalan yang kerap muncul setiap tahun.
Sebagai anggota Komisi X DPR RI yang membidangi pendidikan, Reni Astuti menilai bahwa berbagai tantangan tersebut harus segera mendapatkan solusi konkret agar program wajib belajar dapat berjalan optimal dan menjangkau seluruh anak Indonesia.
“Memasuki tahun ajaran 2026/2027 ini, harapan kita semua harus bulat. Yakni, tidak boleh ada lagi kasus anak tidak bisa sekolah. Pendidikan adalah hak paling mendasar bagi setiap anak Indonesia,” ujar Reni Astuti, Senin (13/7/2026).
Doktor lulusan Universitas Airlangga (Unair) tersebut menegaskan bahwa MPLS tidak boleh dipandang hanya sebagai kegiatan seremonial penyambutan siswa baru. Lebih dari itu, kegiatan ini harus menjadi momentum evaluasi bagi pemerintah daerah untuk memastikan seluruh anak usia sekolah telah terakomodasi dalam sistem pendidikan.
Menurutnya, pemerintah daerah di tingkat kabupaten, kota, hingga provinsi perlu melakukan pendataan dan validasi secara menyeluruh terhadap anak-anak yang berpotensi tidak melanjutkan pendidikan atau belum memperoleh sekolah. Langkah ini dinilai penting untuk mencegah munculnya kasus anak putus sekolah maupun anak yang tidak mendapatkan akses pendidikan karena berbagai kendala.
Di wilayah Jawa Timur, yang menjadi daerah pemilihannya, Reni mengaku masih menerima berbagai aspirasi masyarakat terkait persoalan pendidikan. Meskipun secara umum sejumlah indikator kesejahteraan di Jawa Timur menunjukkan tren yang cukup baik dibandingkan daerah lain, sektor pendidikan tetap memerlukan perhatian serius dan berkelanjutan.
Beberapa persoalan yang masih sering dikeluhkan masyarakat antara lain pemerataan kualitas sekolah, keterbatasan daya tampung sekolah negeri, serta kebutuhan fasilitas yang memadai bagi sekolah inklusi. Menurutnya, berbagai isu tersebut tidak boleh dianggap sebagai persoalan rutin tahunan yang dibiarkan berulang tanpa penyelesaian.
Reni menilai bahwa kualitas pendidikan yang merata merupakan salah satu kunci utama dalam menciptakan generasi muda yang kompetitif dan siap menghadapi tantangan masa depan. Karena itu, seluruh pemangku kebijakan perlu memastikan setiap anak memperoleh kesempatan belajar yang setara tanpa memandang latar belakang ekonomi maupun lokasi tempat tinggal.
Selain menyampaikan pesan kepada pemerintah daerah, Reni juga memberikan motivasi kepada para siswa baru yang akan memulai perjalanan pendidikan mereka pada tahun ajaran ini. Ia mengajak seluruh peserta didik untuk menyambut lingkungan baru dengan semangat, rasa syukur, serta kepercayaan diri yang tinggi.
Menurutnya, sekolah merupakan tempat yang tidak hanya berfungsi sebagai pusat transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga ruang bagi anak-anak untuk mengembangkan karakter, membangun relasi sosial yang sehat, dan meraih cita-cita yang mereka impikan.
“Pelajari lingkungan baru dengan positif, jalin pertemanan yang sehat, dan gantungkan cita-cita setinggi mungkin,” kata Reni.
Pesan tersebut dinilai relevan mengingat masa transisi dari satu jenjang pendidikan ke jenjang berikutnya sering kali menjadi tantangan tersendiri bagi sebagian siswa. Dukungan dari guru, teman sebaya, dan keluarga menjadi faktor penting agar proses adaptasi dapat berjalan dengan baik.
Lebih lanjut, Reni menegaskan bahwa pelaksanaan MPLS harus berlangsung dalam suasana yang aman, nyaman, dan menyenangkan. Ia mengingatkan seluruh pihak sekolah agar memastikan tidak ada praktik yang berpotensi merugikan siswa baru, termasuk segala bentuk perundungan atau bullying.
Menurutnya, lingkungan pendidikan yang sehat merupakan prasyarat penting bagi tumbuh kembang anak. Karena itu, sekolah harus menjadi tempat yang memberikan rasa aman bagi seluruh peserta didik tanpa adanya intimidasi, diskriminasi, maupun kekerasan dalam bentuk apa pun.
“Tidak boleh ada tempat untuk segala bentuk perundungan, baik secara fisik maupun verbal,” tegasnya.
Isu perundungan di lingkungan pendidikan memang masih menjadi perhatian berbagai pihak dalam beberapa tahun terakhir. Karena itu, pelaksanaan MPLS diharapkan mampu menjadi sarana membangun budaya sekolah yang lebih inklusif, ramah anak, dan menghargai keberagaman.
Tak hanya kepada sekolah dan pemerintah daerah, Reni juga memberikan perhatian khusus kepada peran orang tua dalam mendukung pendidikan anak. Menurutnya, keberhasilan pendidikan tidak dapat dibebankan sepenuhnya kepada lembaga sekolah.
Ia menilai bahwa sinergi antara orang tua dan guru merupakan salah satu faktor terpenting dalam membentuk karakter sekaligus meningkatkan prestasi belajar anak. Komunikasi yang baik antara keluarga dan sekolah akan membantu proses pendidikan berjalan lebih efektif.
Di tengah perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi digital saat ini, peran orang tua menjadi semakin penting. Kehadiran emosional, pengawasan yang tepat, serta pendampingan dalam penggunaan teknologi dinilai mampu membantu anak menghadapi berbagai tantangan sosial maupun akademik.
“Kolaborasi dan komunikasi yang harmonis antara orang tua dan guru adalah kunci utama. Dampingi tumbuh kembang anak dengan penuh kesabaran, terutama di tengah tantangan era digital saat ini. Kehadiran emosional orang tua di rumah akan menjadi jangkar karakter anak saat mereka berinteraksi di luar rumah,” pungkas Reni.
Dengan dimulainya MPLS Tahun Ajaran 2026/2027, harapan besar pun disematkan kepada seluruh elemen pendidikan agar mampu menciptakan lingkungan belajar yang inklusif, aman, dan berkualitas. Komitmen bersama antara pemerintah, sekolah, guru, dan orang tua diyakini menjadi fondasi utama dalam memastikan setiap anak Indonesia memperoleh hak pendidikan secara optimal serta tumbuh menjadi generasi penerus bangsa yang unggul.
PENULIS:(SIGIT SANTOSO)
www.posmetrosumut.com
Perhatian terhadap pelaksanaan MPLS tahun ini datang dari Anggota Komisi X DPR RI, Reni Astuti. Legislator dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tersebut menilai bahwa awal tahun ajaran baru harus dimanfaatkan sebagai momentum memperkuat komitmen seluruh pemangku kepentingan pendidikan untuk memastikan setiap anak Indonesia mendapatkan hak belajar yang layak.
Menurut Reni, pendidikan merupakan fondasi utama pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas. Karena itu, seluruh pihak harus memastikan tidak ada anak usia sekolah yang tertinggal atau gagal mengakses pendidikan hanya karena kendala administratif, ekonomi, maupun keterbatasan daya tampung sekolah.
Memasuki tahun ajaran 2026/2027, berbagai persoalan pendidikan masih menjadi perhatian di sejumlah daerah. Mulai dari ketimpangan akses pendidikan, keterbatasan kuota sekolah negeri, hingga tantangan dalam proses penerimaan peserta didik baru masih menjadi persoalan yang kerap muncul setiap tahun.
Sebagai anggota Komisi X DPR RI yang membidangi pendidikan, Reni Astuti menilai bahwa berbagai tantangan tersebut harus segera mendapatkan solusi konkret agar program wajib belajar dapat berjalan optimal dan menjangkau seluruh anak Indonesia.
“Memasuki tahun ajaran 2026/2027 ini, harapan kita semua harus bulat. Yakni, tidak boleh ada lagi kasus anak tidak bisa sekolah. Pendidikan adalah hak paling mendasar bagi setiap anak Indonesia,” ujar Reni Astuti, Senin (13/7/2026).
Doktor lulusan Universitas Airlangga (Unair) tersebut menegaskan bahwa MPLS tidak boleh dipandang hanya sebagai kegiatan seremonial penyambutan siswa baru. Lebih dari itu, kegiatan ini harus menjadi momentum evaluasi bagi pemerintah daerah untuk memastikan seluruh anak usia sekolah telah terakomodasi dalam sistem pendidikan.
Menurutnya, pemerintah daerah di tingkat kabupaten, kota, hingga provinsi perlu melakukan pendataan dan validasi secara menyeluruh terhadap anak-anak yang berpotensi tidak melanjutkan pendidikan atau belum memperoleh sekolah. Langkah ini dinilai penting untuk mencegah munculnya kasus anak putus sekolah maupun anak yang tidak mendapatkan akses pendidikan karena berbagai kendala.
Di wilayah Jawa Timur, yang menjadi daerah pemilihannya, Reni mengaku masih menerima berbagai aspirasi masyarakat terkait persoalan pendidikan. Meskipun secara umum sejumlah indikator kesejahteraan di Jawa Timur menunjukkan tren yang cukup baik dibandingkan daerah lain, sektor pendidikan tetap memerlukan perhatian serius dan berkelanjutan.
Beberapa persoalan yang masih sering dikeluhkan masyarakat antara lain pemerataan kualitas sekolah, keterbatasan daya tampung sekolah negeri, serta kebutuhan fasilitas yang memadai bagi sekolah inklusi. Menurutnya, berbagai isu tersebut tidak boleh dianggap sebagai persoalan rutin tahunan yang dibiarkan berulang tanpa penyelesaian.
Reni menilai bahwa kualitas pendidikan yang merata merupakan salah satu kunci utama dalam menciptakan generasi muda yang kompetitif dan siap menghadapi tantangan masa depan. Karena itu, seluruh pemangku kebijakan perlu memastikan setiap anak memperoleh kesempatan belajar yang setara tanpa memandang latar belakang ekonomi maupun lokasi tempat tinggal.
Selain menyampaikan pesan kepada pemerintah daerah, Reni juga memberikan motivasi kepada para siswa baru yang akan memulai perjalanan pendidikan mereka pada tahun ajaran ini. Ia mengajak seluruh peserta didik untuk menyambut lingkungan baru dengan semangat, rasa syukur, serta kepercayaan diri yang tinggi.
Menurutnya, sekolah merupakan tempat yang tidak hanya berfungsi sebagai pusat transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga ruang bagi anak-anak untuk mengembangkan karakter, membangun relasi sosial yang sehat, dan meraih cita-cita yang mereka impikan.
“Pelajari lingkungan baru dengan positif, jalin pertemanan yang sehat, dan gantungkan cita-cita setinggi mungkin,” kata Reni.
Pesan tersebut dinilai relevan mengingat masa transisi dari satu jenjang pendidikan ke jenjang berikutnya sering kali menjadi tantangan tersendiri bagi sebagian siswa. Dukungan dari guru, teman sebaya, dan keluarga menjadi faktor penting agar proses adaptasi dapat berjalan dengan baik.
Lebih lanjut, Reni menegaskan bahwa pelaksanaan MPLS harus berlangsung dalam suasana yang aman, nyaman, dan menyenangkan. Ia mengingatkan seluruh pihak sekolah agar memastikan tidak ada praktik yang berpotensi merugikan siswa baru, termasuk segala bentuk perundungan atau bullying.
Menurutnya, lingkungan pendidikan yang sehat merupakan prasyarat penting bagi tumbuh kembang anak. Karena itu, sekolah harus menjadi tempat yang memberikan rasa aman bagi seluruh peserta didik tanpa adanya intimidasi, diskriminasi, maupun kekerasan dalam bentuk apa pun.
“Tidak boleh ada tempat untuk segala bentuk perundungan, baik secara fisik maupun verbal,” tegasnya.
Isu perundungan di lingkungan pendidikan memang masih menjadi perhatian berbagai pihak dalam beberapa tahun terakhir. Karena itu, pelaksanaan MPLS diharapkan mampu menjadi sarana membangun budaya sekolah yang lebih inklusif, ramah anak, dan menghargai keberagaman.
Tak hanya kepada sekolah dan pemerintah daerah, Reni juga memberikan perhatian khusus kepada peran orang tua dalam mendukung pendidikan anak. Menurutnya, keberhasilan pendidikan tidak dapat dibebankan sepenuhnya kepada lembaga sekolah.
Ia menilai bahwa sinergi antara orang tua dan guru merupakan salah satu faktor terpenting dalam membentuk karakter sekaligus meningkatkan prestasi belajar anak. Komunikasi yang baik antara keluarga dan sekolah akan membantu proses pendidikan berjalan lebih efektif.
Di tengah perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi digital saat ini, peran orang tua menjadi semakin penting. Kehadiran emosional, pengawasan yang tepat, serta pendampingan dalam penggunaan teknologi dinilai mampu membantu anak menghadapi berbagai tantangan sosial maupun akademik.
“Kolaborasi dan komunikasi yang harmonis antara orang tua dan guru adalah kunci utama. Dampingi tumbuh kembang anak dengan penuh kesabaran, terutama di tengah tantangan era digital saat ini. Kehadiran emosional orang tua di rumah akan menjadi jangkar karakter anak saat mereka berinteraksi di luar rumah,” pungkas Reni.
Dengan dimulainya MPLS Tahun Ajaran 2026/2027, harapan besar pun disematkan kepada seluruh elemen pendidikan agar mampu menciptakan lingkungan belajar yang inklusif, aman, dan berkualitas. Komitmen bersama antara pemerintah, sekolah, guru, dan orang tua diyakini menjadi fondasi utama dalam memastikan setiap anak Indonesia memperoleh hak pendidikan secara optimal serta tumbuh menjadi generasi penerus bangsa yang unggul.
PENULIS:(SIGIT SANTOSO)
www.posmetrosumut.com




This post have 0 comments